Menulis Pengalaman Kerja di Curriculum Vitae bagi Fresh Grad

Selasa, Oktober 18, 2016 3 Comments
Pengalaman kerja adalah senjata utama para pemburu kerja. Informasi pengalaman kerja bagaikan garam dalam bumbu makanan, tanpanya makanan tidak akan bisa lezat. Curriculum vitae tanpa keterangan pengalaman kerja akan terasa hambar, atau kurang ‘nendang’...

Curriculum vitae bagi fresh graduate

Pemburu kerja yang baru lulus kuliah bukan berarti tidak punya pengalaman kerja. Banyak yang memiliki anggapan salah tentang ‘pengalaman kerja’, beranggapan bahwa hanya pengalaman bekerja pada suatu perusahaan saja yang bisa dimasukkan dalam curriculum vitae pada kolom pengalaman kerja. Bahkan meskipun sudah memiliki perusahaan sendiri pun merasa belum memiliki pengalaman kerja. Pengalaman kerja banyak disalah artikan sebagai pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan. Padahal  semua pengalaman beraktivitas yang mengandung nilai ekonomis dan profesionalisme, yang dilakukan di suatu perusahaan, di organisasi, di kampus, di masyarakat, bahkan di rumah, bisa di-klaim sebagai pengalaman kerja.

Masalahnya, banyak petugas penyeleksi yang juga memiliki anggapan salah ini, nah...Maka Anda harus mampu menyajikannya dengan baik di curriculum vitae sehingga bisa mengesankan pembacanya.

Perusahaan sebenarnya mencari karyawan yang sudah punya semangat kerja, tidak hanya memiliki semangat belajar. Ada perbedaan besar antara atmosfir belajar di sekolah atau kampus, dengan atmosfir kerja di lingkungan perusahaan. Perusahaan tidak mau menampung calon karyawan yang belum siap dan memiliki semangat kerja. Calon karyawan yang baru lulus sekolah atau kuliah, yang belum memiliki semangat kerja dianggap akan hanya membebani perusahaan.

Tentang transisi dari semangat belajar menjadi semangat kerja, akhir-akhir ini banyak perusahaan yang menjalankan program ‘Management Trainee”. “Management Trainee” adalah program transisi bagi karyawan baru yang baru lulus kuliah –yang memiliki prestasi akademik tinggi- untuk disiapkan menduduki posisi midle management.

Terlepas dari adanya program “Management Trainee” ini, curriculum vitae yang berisi selling point tinggi dalam hal ‘pengalaman kerja’ tetap memiliki peluang lebih besar untuk dipilih sebagai peserta tahapan rekrutmen selanjutnya.

Semua aktifitas Anda yang memiliki selling point dan bernuansa profesionalisme bisa dituangkan di curriculum vitae sebagai pengalaman kerja. Anda harus menyajikannya di curriculum vitae secara tepat sehingga petugas penyeleksi karyawan menyadari bahwa itu adalah keunggulan.
Aktifitas yang bisa dijadikan pengalaman kerja :

-         Pengalaman organisasi
Aktifitas saat mengikuti organisasi adalah keunggulan yang bisa diungkap dalam curriculum vitae sebagai pengalaman kerja. Kebanyakan para pemburu kerja hanya menuliskan jabatan di organisasi, dan yang lebih konyol lagi jabatannya adalah hanya sebagai anggota.
Seharusnya keterangan sebagai anggota organisasi jangan ditampilkan dalam curriculum vitae, tapi tampilkan apa yang sudah Anda lakukan saat menjadi anggota organisasi. Anda boleh menuliskan jabatan dalam organisasi bila memang memiliki jabatan struktural, dengan tetap diikuti aktifitas apa saja yang dilakukan saat menjabat.
Contoh :
Sekretaris BEM
o   Melaksanakan dan mengontrol seluruh kegiatan administrasi seperti surat-menyurat, pembuatan proposal, pembuatan laporan, dan notulensi.
o   Mengontrol dan melakukan evaluasi WEB, Sosial Media, dan segala kegiatan BEM di dunia maya.
Pencapaian :
§  Berhasil merumuskan SOP pelaksanaan kegiatan yang lebih efektif.

Aktifitas dalam organisasi bukan hanya organisasi sekolah atau kampus, pengalaman berorganisasi selain itu juga bisa dicantumkan seperti komunitas hobi, komunitas sosial, karang taruna, dan lain sebagainya.

-         Pengalaman magang
Aktifitas saat magang adalah selling point yang tinggi dalam curriculum vitae. Sekali lagi, itu bisa memiliki point bila cara penyajiannya tepat. Kebanyakan pemburu kerja hanya menuliskan tempat dan waktu magangnya, tanpa menjelaskan apa yang dilakukan selama magang. Mereka menganggap nama besar tempat mereka magang cukup sebagai selling point. Anggapan itu ada benarnya, tetapi tanpa menjelaskan apa yang dikerjakan saat magang selling pointnya sangat rendah

-         Kegiatan sosial
Menjadi sukarelawan suatu kegiatan sosial juga bisa dicantumkan dalam curriculum vitae. Kegiatan membina anak-anak jalanan adalah pengalaman Anda dalam mengelola sumber daya manusia. Kegiatan membina ibu-ibu PKK mengelola bahan-bahan daur ulang kemudian menjualnya adalah pengalaman profesional Anda dalam bidang produksi sekaligus penjualan.

-         Usaha atau proyek keluarga
Banyak pemburu kerja kurang pede mencantumkan pengalaman mendukung usaha keluarga dalam curriculum vitae. Padahal yang mereka lakukan dalam usaha keluarga tersebut bisa jadi memiliki selling point lebih tinggi dibanding pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan. Pengalaman Anda sebagai marketing creative dalam usaha roti keluarga bisa lebih bernilai dibanding pengalaman kerja hanya sebagai pelaksana pemasaran sebuah perusahaan profesional.
Ada beberapa saran penyajian sehingga apapun aktifitas Anda dianggap sebagai pengalaman kerja yang memiliki selling point tinggi:

1.      Gunakan kalimat aktif
Dalam menuliskan pengalaman beraktifitas usahakan selalu menggunakan kalimat aktif : melakukan, mengelola, mengendalikan, mengontrol, mengevaluasi, mengorganisisr, dan lain-lain.
2.    Memilih kata-kata dalam atmosfir profesionalisme
Contoh :
o   Bila memiliki pengalaman menjaga toko kelontong milik keluarga, Anda menuliskan di CV :
Melakukan kegiatan penjualan di toko kebutuhan pokok.
o   Pengalaman membantu mengontrol pembukuan usaha penggilingan beras bisa Anda tulis :
Melakukan seluruh proses administrasi dan pembukuan pada perusahaan penggilingan beras
3.    Sampaikan prestasi atau pencapaian yang diraih sebagai hasil dari aktifitas.
Contoh :
o   Berhasil menertibkan pembukuan sehingga mengurangi tingkat kebocoran anggaran sebesar 50%.
o   Berhasil meningkatkan tingkat efisiensi operasional Butik Busana Muslim sebesar 25%.
o   Berhasil membuat agenda kegiatan organisasi yang efektif sehingga tingkat realisasi meningkat menjadi 98%
4.    Cantumkan wewenang besar yang dimiliki bila ada
Contoh :
o   Bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan operasional toko
o   Berwenang penuh dalam proses pembinaan karyawan perusahaan pembuat tempe.

Anda cantumkan semua itu dalam kolom ‘Pengalaman Kerja’, atau bisa juga diberi judul lain seperti : “Aktifitas”, “Pengalaman Kegiatan”, dan lain-lain yang maksudnya adalah tentang segala karya Anda.

Yang lebih penting dari semua itu, dalam menuliskan segala aktifitas sebagai ‘pengalaman kerja’, haruslah :

a.     Jujur
Semua yang Anda tulis haruslah sesuai fakta yang terjadi, jangan ada dusta sekecilpun. Pastikan tidak ada sama sekali rekayasa dalam informasi atau Anda akan menemui kehancuran karir. Petugas penyeleksi calon karyawan adalah para pejabat profesional yang sudah berpengalaman menemui ratusan orang yang melamar kerja. Mereka akan dengan mudah menemukan kebohongan yang Anda lakukan. Bila pun mereka tidak menyadarinya, suatu saat perusahaan akan menyadarinya dan itu lebih buruk lagi bagi Anda.

b.    Selaras
Pastikan informasi yang Anda tulis selaras dengan seluruh informasi dalam curriculum vitae. Selain menguatkan kesan, keselarasan dalam curriculum vitae akan memudahkan Anda saat menghadapi pertanyaan di ruang interview. Pastikan Anda bisa menjawab pertanyaan yang berdasarkan informasi-informasi dalam curriculum vitae. Saat menjawab pertanyaan usahakan selalu konsisten menggunakan kata-kata bernuansa profesional.

Meskipun baru lulus sekolah atau kuliah Anda harus serius dan bersungguh-sungguh dalam membuat curriculum vitae. Tingkatkan kepercayaan diri, luruskan niat, kuatkan komitmen, kobarkan semangat, karena orang seperti itulah yang dicari banyak perusahaan. 

Kriteria Curriculum Vitae yang Baik

Kamis, Oktober 13, 2016 Add Comment
Kriteria Curriculum Vitae yang Baik
Kriteria Curriculum Vitae yang Baik
Curriculum Vitae adalah dokumen yang paling penting bagi para pemburu kerja. Mereka harus membuatnya sebaik mungkin, karena CV-lah penentu utama seseorang bisa  dipilih untuk mengikuti proses rekrutmen selanjutnya.
Seperti apakah Curriculum Vitae yang baik...?
Bila maksud dari pertanyaan di atas adalah tentang format, maka faktanya belum ada konsensus atau ketentuan baik secara nasional maupun internasional/dunia tentang  format curriculum vitae yang baik dan benar. Maka kita akan membahas curriculum vitae yang baik ditinjau dari manfaat dan tujuannya.
Bagi para pemburu kerja (Job Hunter) tujuan akhir pembuatan curriculum vitae adalah untuk mendapatkan pekerjaan, yang bila dipecah lagi berdasarkan tahapan tujuannya  adalah mempengaruhi perusahaan agar mau memilih mereka sebagai kandidat karyawan untuk mengikuti proses rekrutmen berikutnya. Proses rekrutmen paling awal adalah seleksi kandidat berdasarkan penilaian surat lamaran kerja dan curriculum vitae. 
Berdasarkan manfaat dan tujuannya tersebut curriculum vitae yang baik harus memenuhi kriteria :
a.  Komunikatif
Curriculum vitae yang baik
Banyak sekali para pemburu kerja membuat curriculum vitae yang panjang lebar sekali dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan. Seluruh informasi tentang diri mereka ditumpahkan ke dalam curriculum vitae. Riwayat pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, hobie, film kesukaan, genre buku bacaan yang digemari, bahkan makanan kedoyanan dituangkan dalam CV-nya. Mereka memindahkan data diri pada facebook ke dalam CV-nya, sehingga menjadi berlembar-lembar. Lebih konyol lagi, dua halaman pertama CV justru dipenuhi informasi-informasi tidak jelas tersebut.  Padahal petugas penyeleksi setiap hari harus mengadapai surat lamaran kerja dan curriculum vitae berjumlah ratusan di mejanya.
Curriculum vitae yang komunikatif adalah yang memudahkan pembacanya menangkap maksud dan isi yang terkandung di dalamnya. Karena itu setiap CV yang komunikatif haruslah sederhana dan mudah dipahami.

b. Persuasif
Curriculum Vitae yang baik
Curriculum vitae tidak boleh sekedar komunikatif, tapi juga harus persuasif. Harus bisa mempengaruhi orang yang membacanya, yaitu petugas penyeleksi surat lamaran kerja. Kata-kata yang digunakan harus mempunyai daya pengaruh. Curriculum vitae harus mampu membuat petugas penyeleksi besedia membaca seluruh isi curriculum vitae, dan membuatnya bersedia mempertimbangkan penawaran dalam CV tersebut.
Curriculum vitae harus bisa berfungsi sebagai alat pemasaran, karena itu kata-kata yang dipilih harus bersifat mempengaruhi atau membujuk pembacanya.

c.  Selling point
curriculum vitae yang baik
Curriculum vitae yang baik, yang memiliki manfaat dan tujuan membuat pemiliknya dipilih sebagai kandidat karyawan untuk mengikuti proses rekrutmen selanjutnya harus berisi sebanyak-banyaknya selling point, dipenuhi selling point. Setelah memenuhi kriteria komunikatif, kemudian persuasif, maka selanjutnya adalah isi dari curriculum vitae harus jelas menawarkan keunggulan yang dimiliki.

Tiga kriteria di atas harus menjadi acuan dalam membuat curriculum vitae. Harus dipastikan, saat selesai membuat sebuah curriculum vitae, apakah secara keseluruhan sudah memenuhi tiga kriteria tersebut. Juga harus diperiksa ulang, apakah ada kata, atau kalimat, atau informasi yang tidak memenuhi kriteria tersebut. Bila ada, sebaiknya segera dipikirkan untuk membuangnya atau mengubah dengan yang lain.
Berdasarkan tiga kriteria tersebut sebenarnya isi curriculum vitae hanya terdiri dari dua bagian besar. Yang pertama adalah data kontak, yaitu informasi tentang bagaimana perusahaan bisa menghubungi Anda, paling sederhana berupa informasi alamat, email dan nomor telepon. Tiga informasi ini adalah yang paling penting. Termasuk data kontak adalah alamat website atau blog, akun sosial media seperti Facebook, Instagram, LingkedIn, dan lain-lain. Dan ID Chatting seperti Whatsapp, Line, Wechat, dan lain-lain. Yang perlu dipersiapkan adalah memastikan blog dan sosial media memiliki ‘penampilan’ profesional bila akan dicantumkan dalam curriculum vitae. Nama akun dan isinya harus dipastikan jauh dari kesan lebay. Jangan sampai perusahaan salah menilai Anda, sehingga mengabaikan keunggulan-keunggulan Anda, gara-gara melihat isi sosial media yang terlalu lebay dan jauh dari sifat profesional.
Sedangkan bagian kedua isi curriculum vitae adalah tentang keunggulan. Semua informasi selain data kontak harus mengandung keunggulan yang ditawarkan kepada perusahaan, bila tidak ada nilai keunggulannya sebaiknya tidak dicantumkan.
-          Infomasi usia, status pernikahan, dan agama
Tiga informasi ini adalah bisa termasuk keunggulan, atau sebaliknya menjadi point negatif tentang Anda. Ada perusahaan yang mencari karyawan usia muda atau sebaliknya. Ada perusahaan yang menganggap bahwa karyawan yang sudah berkeluarga lebih unggul karena lebih produktif, tapi ada juga yang menganggap karyawan yang belum berkeluarga akan lebih total bekerja.
Beberapa perusahaan, terutama yang bisnisnya bersinggungan dengan agama tertentu, akan cenderung memilih karyawan dengan agama tertentu, seperti Bank Syariah.
Bila tiga infomasi ini tidak bisa menjadi keunggulan sehingga Anda dipilih sebaiknya jangan dicantumkan. Hati-hati, jangan sampai gara-gara mencantumkan salah satu atau ketiganya di dalam curriculum vitae, Anda justru tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti proses rekrutmen selanjutnya. Sebaiknya perusahaan tahu lebih dulu segala keunggulan Anda sebelum mengetahui tiga informasi ini. Lebih baik perusahaan lebih dulu tahu bahwa Anda seorang akuntan yang andal sebelum tahu bahwa ternyata Anda berusia lebih tua dari yang perusahaan harapkan. Lebih baik perusahaan lebih dulu meyakini keunggulan Anda dalam melakukan penjualan sebelum menyadari bahwa ternyata Anda sudah berkeluarga, sedangkan awalnya mereka mencari seorang tenaga penjual yang belum menikah.
-          Pendidikan dan Pelatihan
Banyak para pemburu kerja yang mencantumkan riwayat pendidikan sejak sekolah dasar. Padahal perusahaan tidak pernah peduli Anda bersekolah dasar di mana, bersekolah menengah pertama di mana. Perusahaan hanya membutuhkan data riwayat pendidikan yang berhubungan dengan keunggulan yang Anda tawarkan kepada mereka. Boleh-boleh saja Anda mencantumkan informasi tentang sekolah dasar selama informasi itu berhubungan dengan keunggulan atau mengandung selling point. Bisa juga mencantumkan informasi sekolah menengah pertama karena pada saat itu Anda mendapat prestasi yang luar biasa, seperti memenangkan olimpiade tingkat dunia dan Anda melamar sebagai tim pendamping kontingen olimpiade.
Bagi pemburu kerja yang sudah memiliki banyak pengalaman kerja, informasi pendidikan bisa jadi tidak lagi menjadi keunggulan, maka tidak perlu dicantumkan.
Informasi pelatihan yang dicantumkan dalam curriculum vitae juga harus memiliki keunggulan, yaitu memiliki tema yang relevant dengan posisi pekerjaan yang dibidik. Tema pelatihan yang tidak relevant tidak memiliki selling point, bukanlah keunggulan.
-          Pengalaman Kerja
Kita bersama sepakat bahwa pengalaman kerja adalah sebuah keunggulan. Tentang pengalaman kerja ini akan dibahas lebih mendalam dalam artikel khusus. Yang pasti Anda harus menuliskan tentang pengalaman kerja dengan komunikatif, tidak bertele-tele, persuasif dan berisi selling point.
-          Keterampilan
Sebagaimana pengalaman kerja, keterampilan juga keunggulan yang jadi andalan seluruh pemburu kerja. Tentang keterampilan ini juga akan dibahas secara mendalam dalam artikel tersendiri. Sekali lagi, Anda harus mampu menuliskan keterampilan dalam curriculum vitae secara komunikatif, persuasif, dan memperhatikan  selling point.
-          Keunggulan-keunggulan lain
Prestasi yang unik, ketampanan, kecantikan, dan keunggulan-keunggulan lain bisa Anda masukkan dalam curriculum vitae selama relevant dengan posisi pekerjaan. Ketampanan dan postur tubuh yang ideal akan menjadi keunggulan Anda bila melamar sebagai presenter atau anchor news pada stasiun Televisi. Prestasi memenangkan perlombaan renang adalah selling point saat Anda melamar pada perusahaan pengeboran minyak di lepas pantai.
Apapun yang Anda miliki bisa menjadi keunggulan yang memiliki selling point tinggi bila relevant (dibutuhkan) dengan posisi pekerjaan yang Anda bidik.

Kunci utama dalam memilih informasi sebagai keunggulan adalah relevansi dengan posisi pekerjaan. Karena itu sebelum menyusun curriculum vitae Anda harus memiliki data yang sebanyak-banyaknya tentang posisi yang Anda tuju, yang Anda bidik. (baca artikel ini)

Jasa Penulisan Curriculum Vitae dan Surat Lamaran Kerja

Curriculum Vitae yang Baik : Tampilan Menarik dan Berisi Informasi Penting

Senin, Juni 27, 2016 3 Comments
Banyak pencari kerja yang menganggap bahwa curriculum vitae hanyalah dokumen formal administratif, sebuah kegagalan paham yang fatal.

Digunakan untuk mendapatkan pekerjaan adalah salah satu fungsi curriculum vitae. Anggapan bahwa curriculum vitae adalah dokumen formal administratif mungkin benar bila digunakan selain untuk mendapatkan pekerjaan, atau  pada fase melengkapi data setelah diterima kerja, atau mendapatkan pekerjaan sebagai PNS dan sejenisnya.

Ada beberapa guna curriculum vitae selain untuk mendapatkan pekerjaan, seperti sebagai dokumen kelengkapan untuk kenaikan jabatan (promosi), dokumen yang dibutuhkan oleh panitia suatu event bagi juri atau pemateri. Curriculum vitae hanyalah sebagai dokumen formal administratif pada saat yang dibutuhkan adalah data yang lengkap terperinci, sehingga petugas yang membacanya memang harus meneliti seluruh data di dalamnya.

Petugas penyeleksi penerimaan PNS akan dengan teliti membaca keseluruhan curriculum vitae yang masuk sebagai seleksi administratif. Pejabat HRD membutuhkan seluruh data karyawan yang dipromosikan naik jabatan juga sebagai langkah administratif. Sedangkan pada proses rekrutmen dalam perusahaan selain PNS dan sejenisnya fase administratif ini baru dilakukan bagi calon-calon karyawan yang sudah melewati beberapa fase sebelumnya atau sudah dianggap layak dipertimbangkan untuk diterima. Sebelum mencapai fase ini petugas penyeleksi tidak akan bersedia membaca curriculum viate yang panjang berlembar-lembar bila tidak tertarik saat membaca halaman pertama.

Para pencari kerja, sebelum masuk dalam daftar calon karyawan yang dipertimbangkan untuk mengikuti proses rekrutmen selanjutnya, harus mampu mempengaruhi petugas penyeleksi agar tertarik kepadanya. Karena itulah curriculum vitae yang dikirim harus berfungsi sebagai sarana menawarkan diri atau bagaikan brosur pemasaran, bukan sebagai dokumen administratif. Curriculum vitae seperti ini sering disebut resume. Meskipun sebenarnya ada yang menganggap curriculum vitae dan resume adalah dua hal yang berbeda (bisa dibaca di sini)

Sebagai proposal penawaran atau brosur produk, curriculum vitae harus bisa
-         membuat target pasar yaitu perusahaan tujuan yang diwakili petugas penyeleksi berminat untuk membaca segala informasi di dalamnya.
-         Mempengaruhi pertimbangan petugas penyeleksi sehingga berkenan memproses untuk tahapan selanjutnya

Tampilan harus menarik

Tampilan curriculum vitae harus menarik, nyaman dibaca, sehingga secara sekilas sudah memiliki nilai lebih dibanding curriculum vitae lainnya  yang mungkin berjumlah puluhan, atau bahkan ratusan, masuk setiap hari. Sebelum diketahui isinya tentu saja penampilan curriculum vitae yang harus mampu mengalahkan CV-CV lainnya.

Yang dimaksud menarik bukan karena banyak gambar, warna-warni, dan menggunakan font yang artistik. Memasang banyak gambar yang tidak jelas maksudnya, menggunakan banyak warna dan font yang artistik akan mengesankan kurang profesional, dan membuat petugas penyeleksi mengalami kesulitan membaca isinya. Petugas penyeleksi akan lebih sibuk berusaha memahami gambar, atau menikmatinya, dibanding berusaha membaca informasi yang ada di dalamnya.

Menggunakan banyak gambar (yang relevant), warna, dan font artistik mungkin bisa berguna bila posisi yang dituju memang bidang kreatif atau bidang yang membutuhkan keahlian seni. Sehingga pemasangan gambar, penggunaan warna, dan font artistik menjadi unjuk keterampilan dalam hal kreatifitas atau seni.

Tampilan yang menarik adalah yang dalam sekali pandang petugas penyeleksi bisa menangkap apa yang ditawarkan oleh pemilik curriculum vitae. Tampilan yang  menggunakan font sederhana sehingga mudah dibaca, menggunakan warna yang nyaman dipandang mata, dan dengan penataan paragraph yang efektif  akan sangat mengesankan petugas penyeleksi. Petugas penyeleksi akan bisa membaca isi curriculum vitae dengan nyaman dan senang.

Informasi yang ingin disampaikan disajikan dengan menarik dan mudah dipahami. Penggunaan gambar atau grafik secukupnya yang berhubungan dengan informasi atau data akan meningkatkan daya tarik curriculum vitae. Menggunakan grafik batang untuk menampilkan skala keunggulan yang ditawarkan akan menguatkan kesan dan memiliki kekuatan pengaruh yang lebih tinggi dibanding hanya dalam bentuk tulisan. Menggunakan font yang digaris tebal atau miring juga bisa berguna untuk memberikan tekanan pada informasi yang jadi andalan.

Menggunakan format lebih dari satu kolom dalam satu halaman bisa membuat pembaca lebih nyaman, selain juga membuat pemanfaatan ruang halaman menjadi lebih efisien. Informasi yang akan disampaikan pada satu halaman yang menggunakan dua kolom tentu cenderung lebih banyak dari pada hanya menggunakan satu kolom.

Memilih informasi yang penting

Untuk mencari kerja, atau memasarkan diri di dunia kerja, informasi yang ditampilkan dalam curriculum vitae harus benar-benar dipilih yang penting-penting saja, sesuai dengan fungsi curriculum vitae sebagai proposal penawaran atau bagaikan brosur produk.

Seperti yang disampaikan di atas, petugas penyeleksi surat lamaran kerja harus membaca puluhan bahkan ratusan CV yang masuk setiap hari. Rata-rata mereka hanya punya waktu tiga menit untuk membaca setiap CV. Tidak mungkin mereka sudi membaca sampai selesai CV yang panjang berlembar-lembar. Informasi yang bertele-tele tanpa tujuan jelas juga pasti diabaikan petugas penyeleksi.

Informasi andalan harus diletakkan di halaman pertama, karena sangat mempengaruhi pilihan petugas penyeleksi bersedia membaca halaman berikutnya atau tidak.

Apakah informasi penting? Penting bagi siapa?

Curriculum vitae yang berfungsi sebagai sarana komunikasi memasarkan diri harus berisi informasi yang penting bagi perusahaan, informasi tentang hal yang dibutuhkan perusahaan. Segala informasi yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan perusahaan jangan dimasukkan ke dalam CV.

Petugas penyeleksi mendapat mandat dari perusahaan untuk mencari karyawan baru yang memiliki kriteria tertentu sesuai kebutuhan perusahaan. Selain tampilan, curriculum vitae berisi informasi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan pasti akan memikat petugas penyeleksi sehingga bersedia membaca halaman selanjutnya.

Banyak pencari kerja yang memasukkan informasi yang penting menurut dirinya sendiri tetapi tidak penting menurut perusahaan. Informasi-informasi seperti ini, apalagi bila ditempatkan di halaman pertama, justru akan menurunkan kesan positif dari petugas penyeleksi yang membacanya. Mereka akan kehilangan selera untuk melanjutkan membaca, kemudian memutuskan untuk membaca curriculum vitae dari pengirim berikutnya.

Karena itu sebelum menyusun sebuah CV, pencari kerja harus melakukan pencarian data tentang perusahaan yang dituju dan posisi yang dibidik. Bila perlu curriculum vitae disusun spesifik untuk setiap  perusahaan sesuai data-data masing-masing.

Informasi-informasi yang dipilih sebagai isi curriculum vitae juga harus memiliki selling point, dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Jadi, sebelum dimasukkan ke dalam curriculum vitae informasi harus diuji :
-         Apakah sesuai dengan kebutuhan perusahaan?
-         Apakah mengandung selling point?

Bila jawabannya tidak untuk kedua pertanyaan tersebut, maka informasi itu harus dikeluarkan dari curriculum vitae.

Satu hal lagi yang sangat penting adalah bahwa semenarik dan setinggi apapun selling pointnya, sebuah informasi harus sesuai fakta. Kebohongan sekecil apapun dalam curriculum vitae akan segera diketahui. Data-data fiktif yang dimasukkan ke dalam curriculum vitae untuk meningkatkan daya tariknya pasti akan diketahui dalam proses rekrutmen, cepat ataupun lambat. Pencari kerja harus mampu membuat curriculum vitae yang menarik, punya daya pengaruh, penuh selling point, tetapi tetap berlandaskan kejujuran.


gambar dari www.all-free-download.com

5 Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Anda Menyusun Bisnis Plan Usaha Sampingan

Senin, Mei 23, 2016 Add Comment
 
5 Pertanyaan Sebelum Menyusun Bisnis Plan


Seperti yang sudah kami tuliskan sebelumnya bahwa banyak dari karyawan swasta atau PNS yang ingin mempunyai (membuka) usaha sampingan. Namun usaha yang baik adalah yang mempunyai perencanaan usaha (bisnis plan) yang baik, karena perencanaan yang baik akan membuat anda lebih mudah mengetaui apa yang harus dikerjakan dan kemungkinan kendala yang harus dihadapi. 

Pada artikel kali ini kami akan membahas beberapa hal yang harus anda lakukan sebelum anda menyusun bisnis plan (rencana usaha), karena dengan mengetahui hal-hal tersebut akan lebih mempermudah saat anda menyusunnya. 

Berikut ini adalah hal-hal yang harus anda pertimbangkan sebelum menyusun rencana bisnis anda.

1. Berapa Lama Usaha Sampingan Tersebut Dikelola?

Jika anda adalah seorang karyawan swasta atau PNS yang ingin mempunyai usaha sampingan, tetapi karena tuntutan pekerjaan tetap anda harus berpindah-pindah kota demi peningkatan karir, maka ketika anda hendak menyusun bisnis plan usaha sampingan hal ini harus anda pertimbangkan. Jangan sampai saat usaha tersebut sudah mulai jalan dan menghasilkan ternyata anda harus dimutasi kerja atau mendapatkan promosi kenaikan pangkat dan harus berpindah kota. 

Memang tidak masalah jika anda tetap meneruskan usaha tersebut, tetapi jika sejak awal sudah mengetahui kemungkinan ini, maka anda bisa melakukan "kaderisasi" kepada orang yang nantinya anda percaya untuk mengendalikan usaha tersebut. Oleh karena itu hal berikut ini juga perlu anda pertimbangkan

2. Siapa Pengelola Usaha Sampingan Tersebut?

Secara umum ada dua macam pengelolaan usaha sampingan, pertama di kelola sendiri (bisa bersama istri, anak atau anggota keluarga) dan yang dikelola orang lain. Tentu masing-masing model pengelolaan tersebut ada kelebihan dan kekurangannya. 

Misalnya, jika anda mempunyai modal usaha yang terbatas (katakan di bawah 10 - 20 juta) maka usaha sampingan tersebut lebih baik dikelola sendiri karena anda tidak perlu atau tidak terlalu banyak mengeluarkan dana untuk membayar tenaga kerja. Apalagi pada saat-saat awal merintis usaha bisa jadi investasi modalnya lebih banyak digunakan untuk promosi atau dibelanjakan inventaris atau peralatan pendukung usaha. 

Mempersiapkan siapa pengelola usaha sampingan tersebut sejak awal akan memudahkan anda menyusun rencana bisnis anda untuk tahun-tahun berikutnya, ketika usaha tersebut semakin berkembang.

3. Apa Jenis Usaha Sampingan Anda?

Ada berbagai macam usaha sampingan, mulai memproduksi (kerajinan, makanan, dan sebagainya), jasa (servis atau reparasi peralatan elektornik, konsultan, atau asistensi pekerjaan, dll), affiliate, dropshipper, multilevel atau bahkan broker/makelar. 

Setiap jenis usaha mempunyai pengelolaan yang berbeda - baik dalam manajemen keuangan, pemasaran dan sumber daya manusia. Karenanya anda harus mempunyai pengetahuan dalam hal-hal tersebut. Paling tidak anda mengetahui apa saja yang harus anda siapkan dan harus anda pelajari dalam mengelolanya. 

Jangan sampai terjadi ketika usaha sudah dijalankan anda masih harus mempelajari hal-hal yang seharusnya "sudah selesai" disiapkan. Misalnya: anda mempunyai usaha sampingan dalam membuat kerajinan tangan untuk souvenir pernikahan, begitu anda gencar melakukan promo dan kemudian anda mendapatkan pesanan yang kebetulan banyak, tetapi anda kedodoran dan kelabakan saat mendapatkan bahan baku karena ternyata toko bahan baku ditempat anda stoknya terbatas. 

Hal seperti ini juga pernah dialami seorang teman yang mencoba usaha sampingan memasarkan "shuttle cock" - saat promo di internet sudah disebar - maka mulai berdatangan calon konsumen yang hendak pesan namun sayangnya sang teman saya tersebut gagal memenuhi banyaknya pesanan dikarenakan pengrajin shuttle cock yang dia kenal sebenarnya sudah kuwalahan melayani pesanan secara offline - apalagi ditambah pensanan dari media online yang ternyata tidak kalah banyak. akhirnya sia-sia sudah investasi waktu dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk melakukan promo tersebut. 

Tentu anda tidak ingin mengalami hal seperti itu bukan?

4. Siapa Kompetitor Usaha Sampingan Anda?

Jangan pernah takut adanya pesaing atau kompetitor dari usaha sampingan yang hendak anda rintis — selain anda harus punya keyakinan yang kuat bahwa rezeki masing-masing orang sudah ada yang mengatur — Anda harus bersyukur jika ada seseorang yang sudah memulai seperti anda karena anda bisa "belajar dan mempelajari" apa saja sudah dia lakukan dengan bisnis itu. Seperti apa kelebihan dan kekurangan dari produk atau jasa yang ditawarkan kompetitor tesebut. 

Dengan adanya kompetitor pula, anda bisa melakukan diferensiasi layanan yang hendak anda jual sehingga anda juga mengetahui pangsa pasar dari produk/jasa anda.

5. Siapa Penyandang Dana Usaha Sampingan Tersebut?

Meski cuma usaha sampingan dan mungkin investasi dananya "tidak banyak" misalkan hanya sekitar 5 sampai 10 juta, tetapi anda harus memastikan siapa penyandang dana (investor) dari usaha sampingan tersebut. 

Banyak kejadian karena usaha sampingan dan tidak banyak dana yang dibutuhkan awalnya modalnya dibiayai oleh orang-orang dekat disekitar anda, baik keluarga atau teman. Tetapi dalam perjalanannya bisa jadi usaha tersebut rugi atau bahkan semakin maju. 

Baik ketika rugi atau saat semakin untung, bisa saja menimbulkan masalah jika ada pihak-pihak lain yang terlibat. Hal ini disebabkan karena tidak jelas akad perjanjian investasi di awalnya. Banyak kejadian yang berakhir dengan retaknya hubungan bahkan terjadi permusuhan dengan teman atau keluarga dekat disebabkan hal tersebut. 

Ketika terjadi kerugian, jika melibatkan orang lain, ada investor yang terlibat dalam usaha tersebut merasa "sebagai pemberi pinjaman" - bukan sebagai bagian dari investor, akibatnya ketika usaha merugi dia bersikeras pengelola harus tetap mengembalikan uang yang telah dia berikan seperti semula padahal jika sebagai investor mestinya kerugian ditanggung bersama.
Begitu juga sebaliknya, jika usaha maju dan semakin mendatangkan keuntungan yang banyak, ada pihak ketiga yang awalnya "cuma dipinjam uangnya" merasa sebagai investor yang harus menerima pembagian hasil usaha sebagaimana investor. 
 
Oleh karena itu harus sejak awal harus dipertimbangkan siapa yang akan menjadi investor dari usaha sampingan tersebut.

Idealnya usaha sampingan dengan modal yang kecil yang hendak anda lakukan maka lebih baik menggunakan dana sendiri tanpa melibatkan pihak ketiga. Sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari, kecuali anda sudah mempersiapkan segala kemungkinannya.

Demikanlah 5 pertanyaan yang harus anda jawab sebelum anda menyusun bisnis plan dari usaha sampingan yang hendak anda jalankan. 


***

Sumber Gambar : pixabay.org

Kunci Sukses Wawancara Kerja :7 Tips Membangun Hubungan dengan Pewawancara

Minggu, Mei 22, 2016 Add Comment
Keberhasilan Anda membangun hubungan dengan pewawancara sangatlah menentukan proses wawancara kerja. Tidak bisa dipungkiri bahwa unsur subyektifitas dalam proses wawancara kerja sangatlah tinggi. Suasana hati pewawancara terhadap Anda sangatlah menentukan hasil akhir wawancara kerja.

Anda harus bisa membuat pewawancara merasa nyaman berbicara dengan Anda selama proses wawancara kerja. Karena itu, upaya membangun hubungan ini harus Anda lakukan sejak awal bertemu. Kesan pertama yang dirasakan pewawancara terhadap Anda sangatlah penting.

Sebaliknya, kegagalan membangun hubungan baik dengan pewawancara akan membuat segala keunggulan dan potensi yang Anda miliki menjadi tidak berarti. Sehebat apapun keunggulan tidak akan akan dianggap oleh pewawancara bila tidak menyukai Anda. List panjang pengalaman akan sia-sia saat pewawancara merasakan kesan yang buruk bertemu dengan Anda.

Kemampuan membangun hubungan dengan pewawancara harus Anda kuasai dengan baik. Anda harus mempelajari, memahami, dan melatihnya.
Berikut tips untuk membangun hubungan dengan pewawancara saat wawancara kerja :


1.      Tenang dan relax sejak awal.
Sebelum melewati pintu ruangan wawancara kerja Anda harus sudah dalam kondisi tenang dan relax. Memang wajar dan manusiawi bila  Anda tegang dan nervous menghadapi wawancara kerja, tapi harus segera Anda atasi. Cara menurunkan ketegangan saat wawancara kerja sudah kami ulas di sini.
Emosi bisa menular melalui pancaran. Ketegangan Anda akan memancar dan dirasakan oleh pewawancara sehingga membuat dia/mereka juga merasa tidak nyaman. Sebaliknya, sikap dan kondisi tenang Anda akan membuat perasaan dia/mereka juga tenang dan nyaman.

2.    Menyapa dengan hangat
Senyum adalah suatu keharusan, dan senyumlah dengan hangat. Latihlah senyum Anda di depan cermin berkali-kali sebelum hari wawancara kerja. Pastikan senyum Anda adalah yang terbaik, tidak dipaksakan pun tidak terlalu berlebihan, dan sekali lagi Anda harus merasa nyaman dengan senyum itu.
Segera sapa pewawancara yang ada dalam ruangan begitu Anda berada dalam ruangan wawancara kerja. Pastikan mulut Anda berkata dengan artikulasi yang jelas, suara bisa didengar oleh semua orang dalam ruangan itu, edarkan pandangan kepada mata pewawancara. Menyapa dengan suara lirih tanpa menggerakkan bibir seutuhnya akan terkesan menggumam yang tidak tulus. Sapaan yang hangat adalah moment terbaik Anda untuk memberi kesan pertama yang baik kepada pewawancara. Selengkapnya tentang sikap saat masuk ruangan wawancara kerja bisa dibaca di sini.
Setting pikiran bahwa Anda sedang bertemu dengan orang-orang hebat dan baik yang siap membantu mensukseskan kehidupan karir masa depan. Ini sangat penting karena apapun yang Anda pikirkan itulah yang terpancar dan pewawancara rasakan.

3.     Menjabat tangan bila memungkinkan
Jabat tangan pewawancara dengan tegas tapi lembut, bila memungkinkan. Kontak fisik Anda dengan pewawancara akan membantu membangun hubungan emosi. Tapi Anda harus mengenali kondisi ruangan. Jangan memaksakan berjabat tangan bila tidak memungkinkan, karena akan membuat pewawancara merasa tidak nyaman.
Ada beberapa kondisi yang tidak memungkinkan berjabat tangan :
·        Anda dan pewawancara dipisahkan meja besar sehingga harus berjalan memutar untuk berjabat tangan.
·        Pewawancara sedang sibuk melakukan sesuatu saat Anda masuk ruangan
·        Pewawancara menolak berjabat tangan
Bila itu terjadi Anda bisa mengganti dengan gerakan salam yang lain seperti menangkupkan dua tangan di depan dada, atau agak menunduk hormat, atau menggabungkan keduanya. Persiapkan dan latih gerakan itu sebagai antisipasi sehingga ketika harus terjadi  Anda mampu melakukannya dengan sikap yang luwes.
Pertahankan senyum dan kontak mata saat berjabat tangan. Sebutkan nama Anda dengan tegas dan jelas saat berjabat tangan, dan pastikan pewawancara bisa mendengarnya. Biasanya pewawancara akan balas menyebutkan nama, bila itu terjadi pastikan Anda bisa menirukan menyebut nama dia /mereka.

4.    Mengetahui nama pewawancara
Anda bisa mengetahui nama pewawancara pada saat berjabat tangan, atau pewawancara mengenalkan diri sebelum memulai wawancara kerja. Tapi bila itu tidak terjadi Anda harus bertanya saat akan menjawab pertanyaan pertama. Anda juga bisa menanyakan nama-nama pewawancara kepada petugas perusahaan bagian penerimaan sebelum giliran masuk ke ruang wawancara kerja.
Pastikan Anda bisa menyebutkan nama mereka dengan benar. Bila Anda ragu sebutkan nama mereka sebagai konfirmasi, atau minta dengan sopan agar mereka mengulangnya tapi jangan lebih dari sekali.
Sepanjang wawancara kerja Anda harus sering menyebutkan nama pewawancara. Hal ini akan membangun hubungan personal antara Anda dengan dia/mereka.

5.     Menjaga kontak mata
Sangat penting menjaga kontak mata saat wawancara kerja.
Alasannya secara lengkap kami ulas di artikel : 5 Alasan Harus Menjaga Kontak Mata saat Wawancara Kerja.
Kontak mata adalah unsur terpenting untuk membangun hubungan dengan seseorang. Cara melakukan kontak mata yang tepat akan sangat mempengaruhi kualitas hubungan dengan pewawancara. tidak semua pandangan mata adalah termasuk kontak mata yang bermanfaat. Tentang pandangan mata yang salah bisa dibaca di : 3 Pandangan Mata yang Salah dalam Wawancara Kerja

6.    Antusias
Sikap Anda harus selalu semangat dan antusias saat wawancara kerja. Dengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan seksama, fokus, dengan tatapan yang antusias. Sekali lagi, apa yang ada dalam pikiran Andalah yang terpancar dan pewawancara rasakan. Karena itu harus setting pikiran saat mendengarkan pertanyaan wawancara kerja bahwa Anda sedang mendengarkan sesuatu yang istimewa.
Begitu pula saat menjawab pertanyaan. Settinglah pikiran bahwa Anda sedang menawarkan sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan perusahaan. Pastikan Anda berbicara dengan artikulasi yang jelas, Anda harus melakukan latihan sesering mungkin sebelum hari wawancara kerja (bisa baca artikel tentang latihan komunikasi di 5 Latihan Komunikasi untuk Persiapan Menghadapi Wawancara Kerja ).
Anda juga harus menunjukkan sikap antusias tertarik terhadap perusahaan. Karena itu sangat penting untuk mempelajari segala informasi tentang perusahaan sebelum hari wawancara kerja (tipsnya bisa dibaca di sini). Saat mendapat kesempatan bertanya, gunakan sebaik mungkin untuk bertanya tentang perusahaan sehingga lebih menguatkan kesan antusiasme Anda untuk bergabung dalam perusahaan.

7.     Bagi perhatian kepada pewawancara bila lebih dari satu
Anda harus mengedarkan pandangan/kontak mata ke seluruh pewawancara dalam ruangan. Saat salah satu mengajukan pertanyaan, Anda fokus kepadanya. Tapi saat menjawab pertanyaan, secara bergantian Anda bagikan perhatian ke seluruh pewawancara. Pandanglah mata para pewawancara secara bergantian dengan perlahan. Anda harus membangun hubungan dengan seluruh pewawancara, jangan ada yang terlewat, meskipun porsinya kemungkinan tidak bisa benar-benar merata.

Selain 7 hal di atas, penampilan Anda yang profesional juga sangat penting untuk membangun hubungan dengan pewawancara kerja. Penampilan luar juga sangat mempengaruhi kesan pertama. Penampilan yang terlalu atraktif akan membuat pewawancara lebih mengingat pakaian dan asesori dibanding keunggulan Anda, suatu hal yang konyol. Kesalahan setting pakaian dan asesori akan membuat pewawancara tidak nyaman berhadapan dengan Anda.  Selengkapnya bisa dibaca di 6 Hal Tentang Penampilan yang Mengesankan Profesionalitas saat Wawancara Kerja