Menulis Pengalaman Kerja di Curriculum Vitae bagi Fresh Grad (dilengkapi video)

Minggu, April 18, 2021 7 Comments
Pengalaman kerja adalah senjata utama para pemburu kerja. Informasi pengalaman kerja bagaikan garam dalam bumbu makanan, tanpanya makanan tidak akan bisa lezat. Curriculum vitae tanpa keterangan pengalaman kerja akan terasa hambar, atau kurang ‘nendang’...


 
Curriculum vitae bagi fresh graduate

Pemburu kerja yang baru lulus kuliah bukan berarti tidak punya pengalaman kerja. Banyak yang memiliki anggapan salah tentang ‘pengalaman kerja’, beranggapan bahwa hanya pengalaman bekerja pada suatu perusahaan saja yang bisa dimasukkan dalam curriculum vitae pada kolom pengalaman kerja. Bahkan meskipun sudah memiliki perusahaan sendiri pun merasa belum memiliki pengalaman kerja. Pengalaman kerja banyak disalah artikan sebagai pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan. Padahal  semua pengalaman beraktivitas yang mengandung nilai ekonomis dan profesionalisme, yang dilakukan di suatu perusahaan, di organisasi, di kampus, di masyarakat, bahkan di rumah, bisa di-klaim sebagai pengalaman kerja.

Masalahnya, banyak petugas penyeleksi yang juga memiliki anggapan salah ini, nah...Maka Anda harus mampu menyajikannya dengan baik di curriculum vitae sehingga bisa mengesankan pembacanya.

Perusahaan sebenarnya mencari karyawan yang sudah punya semangat kerja, tidak hanya memiliki semangat belajar. Ada perbedaan besar antara atmosfir belajar di sekolah atau kampus, dengan atmosfir kerja di lingkungan perusahaan. Perusahaan tidak mau menampung calon karyawan yang belum siap dan memiliki semangat kerja. Calon karyawan yang baru lulus sekolah atau kuliah, yang belum memiliki semangat kerja dianggap akan hanya membebani perusahaan.

Tentang transisi dari semangat belajar menjadi semangat kerja, akhir-akhir ini banyak perusahaan yang menjalankan program ‘Management Trainee”. “Management Trainee” adalah program transisi bagi karyawan baru yang baru lulus kuliah –yang memiliki prestasi akademik tinggi- untuk disiapkan menduduki posisi midle management.

Terlepas dari adanya program “Management Trainee” ini, curriculum vitae yang berisi selling point tinggi dalam hal ‘pengalaman kerja’ tetap memiliki peluang lebih besar untuk dipilih sebagai peserta tahapan rekrutmen selanjutnya.

Semua aktifitas Anda yang memiliki selling point dan bernuansa profesionalisme bisa dituangkan di curriculum vitae sebagai pengalaman kerja. Anda harus menyajikannya di curriculum vitae secara tepat sehingga petugas penyeleksi karyawan menyadari bahwa itu adalah keunggulan.
Aktifitas yang bisa dijadikan pengalaman kerja :

-         Pengalaman organisasi
Aktifitas saat mengikuti organisasi adalah keunggulan yang bisa diungkap dalam curriculum vitae sebagai pengalaman kerja. Kebanyakan para pemburu kerja hanya menuliskan jabatan di organisasi, dan yang lebih konyol lagi jabatannya adalah hanya sebagai anggota.
Seharusnya keterangan sebagai anggota organisasi jangan ditampilkan dalam curriculum vitae, tapi tampilkan apa yang sudah Anda lakukan saat menjadi anggota organisasi. Anda boleh menuliskan jabatan dalam organisasi bila memang memiliki jabatan struktural, dengan tetap diikuti aktifitas apa saja yang dilakukan saat menjabat.
Contoh :
Sekretaris BEM
o   Melaksanakan dan mengontrol seluruh kegiatan administrasi seperti surat-menyurat, pembuatan proposal, pembuatan laporan, dan notulensi.
o   Mengontrol dan melakukan evaluasi WEB, Sosial Media, dan segala kegiatan BEM di dunia maya.
Pencapaian :
§  Berhasil merumuskan SOP pelaksanaan kegiatan yang lebih efektif.

Aktifitas dalam organisasi bukan hanya organisasi sekolah atau kampus, pengalaman berorganisasi selain itu juga bisa dicantumkan seperti komunitas hobi, komunitas sosial, karang taruna, dan lain sebagainya.

-         Pengalaman magang
Aktifitas saat magang adalah selling point yang tinggi dalam curriculum vitae. Sekali lagi, itu bisa memiliki point bila cara penyajiannya tepat. Kebanyakan pemburu kerja hanya menuliskan tempat dan waktu magangnya, tanpa menjelaskan apa yang dilakukan selama magang. Mereka menganggap nama besar tempat mereka magang cukup sebagai selling point. Anggapan itu ada benarnya, tetapi tanpa menjelaskan apa yang dikerjakan saat magang selling pointnya sangat rendah

-         Kegiatan sosial
Menjadi sukarelawan suatu kegiatan sosial juga bisa dicantumkan dalam curriculum vitae. Kegiatan membina anak-anak jalanan adalah pengalaman Anda dalam mengelola sumber daya manusia. Kegiatan membina ibu-ibu PKK mengelola bahan-bahan daur ulang kemudian menjualnya adalah pengalaman profesional Anda dalam bidang produksi sekaligus penjualan.

-         Usaha atau proyek keluarga
Banyak pemburu kerja kurang pede mencantumkan pengalaman mendukung usaha keluarga dalam curriculum vitae. Padahal yang mereka lakukan dalam usaha keluarga tersebut bisa jadi memiliki selling point lebih tinggi dibanding pengalaman bekerja pada sebuah perusahaan. Pengalaman Anda sebagai marketing creative dalam usaha roti keluarga bisa lebih bernilai dibanding pengalaman kerja hanya sebagai pelaksana pemasaran sebuah perusahaan profesional.
Ada beberapa saran penyajian sehingga apapun aktifitas Anda dianggap sebagai pengalaman kerja yang memiliki selling point tinggi:

1.      Gunakan kalimat aktif
Dalam menuliskan pengalaman beraktifitas usahakan selalu menggunakan kalimat aktif : melakukan, mengelola, mengendalikan, mengontrol, mengevaluasi, mengorganisisr, dan lain-lain.
2.    Memilih kata-kata dalam atmosfir profesionalisme
Contoh :
o   Bila memiliki pengalaman menjaga toko kelontong milik keluarga, Anda menuliskan di CV :
Melakukan kegiatan penjualan di toko kebutuhan pokok.
o   Pengalaman membantu mengontrol pembukuan usaha penggilingan beras bisa Anda tulis :
Melakukan seluruh proses administrasi dan pembukuan pada perusahaan penggilingan beras
3.    Sampaikan prestasi atau pencapaian yang diraih sebagai hasil dari aktifitas.
Contoh :
o   Berhasil menertibkan pembukuan sehingga mengurangi tingkat kebocoran anggaran sebesar 50%.
o   Berhasil meningkatkan tingkat efisiensi operasional Butik Busana Muslim sebesar 25%.
o   Berhasil membuat agenda kegiatan organisasi yang efektif sehingga tingkat realisasi meningkat menjadi 98%
4.    Cantumkan wewenang besar yang dimiliki bila ada
Contoh :
o   Bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan operasional toko
o   Berwenang penuh dalam proses pembinaan karyawan perusahaan pembuat tempe.

Anda cantumkan semua itu dalam kolom ‘Pengalaman Kerja’, atau bisa juga diberi judul lain seperti : “Aktifitas”, “Pengalaman Kegiatan”, dan lain-lain yang maksudnya adalah tentang segala karya Anda.

Yang lebih penting dari semua itu, dalam menuliskan segala aktifitas sebagai ‘pengalaman kerja’, haruslah :

a.     Jujur
Semua yang Anda tulis haruslah sesuai fakta yang terjadi, jangan ada dusta sekecilpun. Pastikan tidak ada sama sekali rekayasa dalam informasi atau Anda akan menemui kehancuran karir. Petugas penyeleksi calon karyawan adalah para pejabat profesional yang sudah berpengalaman menemui ratusan orang yang melamar kerja. Mereka akan dengan mudah menemukan kebohongan yang Anda lakukan. Bila pun mereka tidak menyadarinya, suatu saat perusahaan akan menyadarinya dan itu lebih buruk lagi bagi Anda.

b.    Selaras
Pastikan informasi yang Anda tulis selaras dengan seluruh informasi dalam curriculum vitae. Selain menguatkan kesan, keselarasan dalam curriculum vitae akan memudahkan Anda saat menghadapi pertanyaan di ruang interview. Pastikan Anda bisa menjawab pertanyaan yang berdasarkan informasi-informasi dalam curriculum vitae. Saat menjawab pertanyaan usahakan selalu konsisten menggunakan kata-kata bernuansa profesional.

Meskipun baru lulus sekolah atau kuliah Anda harus serius dan bersungguh-sungguh dalam membuat curriculum vitae. Tingkatkan kepercayaan diri, luruskan niat, kuatkan komitmen, kobarkan semangat, karena orang seperti itulah yang dicari banyak perusahaan. 

Cara Membuat Curriculum Vitae ATS Friendly dan Disukai Recruiter/HR

Kamis, April 01, 2021 Add Comment

 

STOP! Berhenti memperdebatkan desain Curriculum Vitae!

Bila Anda enggan memermak desain CV, cukup dengan desain standard saja, ok...

Bila Anda ingin mempunyai desain CV yang menarik, pasang banyak ornamen dan warna, silakan...

Masing-masing ada manfaatnya, masing-masing ada risikonya. Silakan gunakan desain masing-masing dengan segala manfaat dan risiko.

Karena itu pahami manfaat dan risikonya. Baca lagi manfaat desain yang menarik di Blog ini. Baca juga tentang desain yang ATS friendly.

Sekarang...mari kita lebih fokus membahas konten. Karena, mau desain polos, mau desain yang atraktif, bila konten CV-nya jelek PASTI DITOLAK perusahaan.

Konten CV itu ada dua bagian : data dan struktur.

Data adalah semua yang Anda miliki, yang Anda tawarkan kepada perusahaan. Setiap orang pasti berbeda. Saya tidak akan punya saran generik untuk data, karena masing-masing orang punya data yang berbeda.

Struktur konten adalah tentang bagaimana menuangkan data ke dalam curriculum vitae. Kalau ini ada saran generiknya. Karena itu yang kita bahas sebentar lagi adalah struktur konten curriculum vitae.

Sub topik

i.                Struktur Konten Curriculum Vitae

ii.              Panjang Curriculum Vitae

iii.            Macam Informasi yang Dimasukkan dalam Curriculum Vitae

iv.             Pola Kalimat


Struktur Konten Curriculum Vitae

Ada 3 hal yang memengaruhi kualitas curriculum vitae :

1.    Panjang curriculum vitae

2.    Macam informasi yang dimasukkan ke dalam curriculum vitae

3.    Pola kalimat

Tolok ukur kualitas yang akan kita gunakan kali ini adalah berdasarkan penilaian Applicant Tracking System (ATS)

“Tapi khan masih banyak perusahaan yang belum menggunakan ATS?”

Benar sekali. ATS adalah software. Program yang ditanamkan di dalamnya berdasarkan hasil penelitian dan pendapat para praktisi rekrutmen. Cara berpikir ATS adalah cara berpikir petugas perekrut karyawan, algoritmanya sama.

Karena mesin, robot, seleksi ATS lebih ketat dan presisi dibanding seleksi manual oleh petugas rekrutmen. Jadi bila CV Anda disetting agar lulus ATS, maka peluang lulus dalam seleksi manual pasti juga akan tinggi.

Panjang Curriculum Vitae

Hampir semua pakar karir menyarankan untuk membatasi CV hanya dua halaman, maksimal tiga halaman. Alasan utamanya adalah karena recruiter  hanya punya waktu yang pendek sekali untuk membaca setiap CV. Mereka tidak punya waktu untuk membaca CV yang panjang berlembar-lembar.

Bagaimana dengan ATS? Bukankah ATS adalah robot yang mampu membaca CV sepanjang apapun dengan cepat?

Benar, ATS adalah robot yang mampu membaca text yang panjang dalam waktu yang cepat. Namun, jangan lupa, bahwa ATS diprogram berdasarkan cara berpikir manajer HR.

Selain itu ATS menggunakan panjang CV sebagai salah satu parameter penilaian karena menggunakan sesuatu yang disebut rasio signal-to-noise, yaitu informasi yang secara spesifik berhubungan dengan posisi pekerjaan dibandingkan dengan informasi yang tidak relevan. CV yang terlalu panjang dinilai tidak efisien.

CV yang terlalu panjang, yang isinya tidak relevant dengan target posisi pekerjan, menggambarkan pemiliknya yang kurang fokus, kurang mampu membuat perencanaan, kurang jelas tujuannya. Ciri-ciri orang yang tidak profesional.

Jadi, ATS bukan tidak mampu membaca CV yang panjang, tetapi ATS akan melakukan pengurangan score untuk CV yang panjangnya melewati batas.

Berapa batas maksimal panjang curriculum vitae?

Dalam jumlah kata ada beberapa pendapat.

Resumeworded.com : 450 - 650 kata untuk pencari kerja tingkat pemula dan menengah, dan sampai 850 kata untuk pencari kerja tingkat senior

Cultivatedculture.com : 475-600 kata, mengacu hasil penelitian oleh talent.work

Ziprecruiter.com : 600-700 kata berdasar analisa penelitian lebih dari 3 juta CV.

Anita Bruzzese, pakar karir : 400-800 kata.

Dari beberapa pendapat itu mungkin bisa kita simpulkan :

Panjang CV paling aman : 600-700 kata

Untuk fresh graduate : minimal 400 kata, karena belum punya banyak pengalaman yang bisa ditampilkan di CV.

Untuk level senior (bekerja >10 tahun) : maksimal 850 kata.

Macam Informasi yang Dimasukkan dalam Curriculum Vitae

Informasi yang dimasukkan dalam curriculum vitae juga tidak bisa sembarangan. CV Anda bisa dinilai rendah oleh ATS gara-gara ada informasi-informasi yang tidak penting.

Jadi, jangan memasukkan informasi ke dalam CV hanya untuk menggenapi batas minimal panjangnya.

Informasi apa saja yang harus atau boleh dimasukkan dalam curriculum vitae?

Ada perbedaan pendapat. Seperti objective, Ziprecruiter menyarankan untuk memasangnya. Sementara Resumeworded justru menganggap Objective sebagai informasi yang tidak penting dan bisa mengurangi score curriculum vitae. Begitu juga dengan informasi Reference. Menurut Resumeworded, reference tidak sepatutnya dimasukkan dalam curriculum vitae. Informasi itu baru dibutuhkan setelah tahap interview.

Namun di antara perbedaan itu ada kesamaan bahwa yang harus ada dalam curriculum vitae adalah informasi tentang contact information, experience, dan education. Pendidikan non formal seperti pelatihan (training) dan kursus (course) termasuk dalam education.

Bagaimana dengan fresh graduate? Khan belum punya pengalaman kerja?

Sebenarnya itu bukan masalah. Experience tidak harus diisi dengan pengalaman menjadi karyawan. Anda bisa mengisinya dengan segala aktivitas selama sekolah atau kuliah, seperti pengalaman organisasi, magang, research project, social project, sebagai sukarelawan. Bila Anda pernah membantu orang tua menjalankan usaha keluarga, itu suatu pengalaman yang sangat tinggi nilainya. Tinggal bagaimana cara menuliskannya dalam curriculum vitae.

Bila setelah menuliskan tiga informasi tersebut ternyata panjang CV Anda belum mencapai batas minimal, masukkan informasi tentang skill atau keterampilan. Summary bisa Anda tuliskan juga dalam curriculum vitae dalam bentuk ringkasan prestasi atau pencapaian kerja, yang dilengkapi metrik angka.

Sebenarnya CV jadi terlalu panjang karena terlalu banyak informasi tidak penting yang dimasukkan. Bila Anda hanya memasukkan tiga informasi : contact information, experience, dan education, Anda tinggal menata kalimat dengan pola yang benar, maka CV Anda akan berkualitas dan mendapatkan nilai tinggi dari ATS.

Pola Kalimat

Banyak pelamar kerja yang gagal membedakan antara job description dalam pengumuman lowongan kerja dengan penjelasan experience dalam curriculum vitae.

Apa bedanya?

Contoh :

Visiting clients and potential clients to evaluate needs or promote products and services.

Giving sales presentations to a range of prospective clients.

Contoh di atas adalah job description dalam informasi lowongan kerja. Tentang uraian pekerjaan yang harus dilakukan oleh karyawan pada posisi pekerjaan tertentu.

Sedangkan penjelasan dalam experience di curriculum vitae adalah tentang apa saja yang sudah Anda lakukan, bukan yang akan Anda lakukan, bukan pula yang seharusnya Anda lakukan.

Recruiter membaca curriculum vitae untuk menemukan apa saja yang bisa Anda lakukan. Experience itu tentang pengalaman, segala hal yang sudah Anda alami dan lakukan. Dari experience perusahaan berusaha menakar dan mengukur keunggulan Anda.

Anda harus menyampaikan sesuatu yang kongkrit dan terukur.

Coba perhatikan contoh berikut :

Evaluating service quality based on input from clients as a result of daily visits, thereby successfully reducing the churn rate by 25% and increasing customer growth rate by 15%.

Presenting service product information to 20 potential clients every week so as to get the addition of 10 new clients a month

Perhatikan contoh itu! Bisa dibaca dan dirasakan tentang sesuatu yang nyata. Apa bedanya dengan contoh sebelumnya?

Pada dua kalimat contoh terakhir ditemukan metrik angka. Itu perbedaan terbesar dengan dua contoh kalimat sebelumnya, dan patut Anda pahami bahwa itu bernilai sangat tinggi menurut ATS.

Polanya harus mengandung:

Kata kerja tindakan (action verb) + istilah unik bidang pekerjaan + metrik angka

Pola seperti itu adalah pola yang ramah ATS, kalimat yang ATS friendly.

Kata kerja tindakan adalah kata kerja untuk kalimat aktif. Usahakan selalu menggaunakan kalimat aktif dalam menjelaskan pengalaman kerja.

Istilah unik bidang pekerjaan adalah ruang untuk memasukkan keyword sesuai bidang pekerjaan target Anda. Bisa diisi hard skill atau technical skill.

Metrik angka adalah kualitatif pembuktian bahwa Anda benar-benar sudah pernah melakukan pekerjaan tersebut. Metrik angka tidak harus diisi jumlah barang atau uang, tapi bisa juga diisi durasi waktu, perbandingan atau prosentase, dan volume.

Kata kerja tindakan : Evaluating, Reducing, Increasing, Presenting

Istilah unik bidang pekerjaan : service quality, churn rate, customer growth rate, service product information, potential clients

Metrik angka : 25%, 15%, 20, 10, a month

Bila ternyata proses rekrutmen tidak menggunakan ATS, apakah pola kalimat seperti itu berpengaruh meningkatkan peluang dipanggil interview?

Silakan baca lagi dua kalimat contoh pertama, bandingkan dengan dua kalimat contoh kedua. Bisa Anda RASAKAN bedanya? Itulah yang DIRASAKAN recruiter atau manajer HR.

Curriculum Vitae Desain Menarik VS Curriculum Vitae ATS Friendly

Senin, Maret 15, 2021 Add Comment

Sekarang di dunia pencarian kerja ada dua kubu, kubu pendukung curriculum vitae yang menarik dan kubu pendukung curriculum vitae ATS friendly (ramah ATS).

Mengapa saya menyebutnya kubu? Karena mereka saling bertolak belakang.

Kubu pendukung CV yang menarik meyakini bahwa sebuah CV itu harus memiliki desain yang bagus. Menurut mereka desain CV yang polos, jadul, akan mengurangi peluang diterima kerja.

Kubu kedua, yang mendukung CV ATS friendly lebih ekstrim. Mereka meyakini bahwa CV yang menggunakan gambar, lebih dari satu kolom, warna-warni, akan tertolak oleh ATS, auto rejected, tidak punya harapan sama sekali.

Kubu mana yang benar?


 Subtopik :

                                       I.            Applicant Tracking System

                                    II.            Proses Penilaian ATS

a.     Bisa Terbaca dengan Baik oleh ATS

b.     Kualitas Isi dan Strukturnya

c.      Tingkat Kesesuaian dengan Lowongan Kerja

                                 III.            Kubu Mana yang Menang?

 

Menurut kubu pertama, desain CV yang polos, yang tidak menarik, akan menyebabkannya diabaikan oleh rekruter. Rekruter menerima puluhan bahkan bisa ratusan curriculum vitae setiap hari. Rekruter adalah manusia biasa yang menyukai keindahan dan kenyamanan. Desain CV yang polos akan membuat mereka bosan sehingga tidak tertarik. Tata letak CV yang monoton tidak nyaman dibaca sehingga rekruter enggan membacanya dengan seksama.

Pendapat kubu pertama ini benar sekali, karena mereka tidak mempertimbangkan keberadaan Applicant Tracking System atau ATS.


Applicant Tracking System

Apakah Applicant Tracking System (ATS)?

ATS adalah sebuah aplikasi rekrutmen, yang membantu rekruter menjalankan tugasnya dari A sampai Z. Mulai dari proses seleksi curriculum vitae, penjadwalan proses interview, tahap-tahap psikotest, sampai pengambilan keputusan oleh direktur atau Kepala Divisi Sumber Daya Manusia. Proses dan hasil setiap tahap rekrutmen semuanya terintegrasi dalam ATS.

ATS inilah yang membuat berapapun curriculum vitae yang masuk tiap hari bisa terseleksi dengan cepat dan seksama. Setiap CV yang masuk akan dipindai dan diurai secara otomatis, adil, dan cermat oleh ATS.

Karena bukan manusia, ATS tidak punya perasaan. ATS hanya bekerja berdasarkan program yang ditanamkan. Sayangnya, sampai saat ini, tidak ada perintah program pada ATS untuk menilai desain curriculum vitae. ATS hanya diperintahkan untuk memindai dan mengurai text, tidak peduli pada keindahan ataupun kenyamanan.

Jadi, semua yang ada dalam curriculum vitae selain text tidak akan terbaca oleh ATS

Kenyataan inilah yang jadi dasar keyakinan kubu kedua bahwa curriculum vitae yang menggunakan desain menarik, yang memasang gambar, yang menggunakan lebih dari dua kolom akan ditolak oleh ATS.

Keyakinan kubu kedua ini bisa benar, bila curriculum vitae didesain menggunakan aplikasi pembuat gambar seperti photoshop. Bahkan meskipun polos tanpa gambar, bila dibuat menggunakan Photoshop, tidak akan bisa terbaca isinya sama sekali oleh ATS.

ATS bukan menolak gambar, tapi tidak bisa membaca gambar.

Jadi bila curriculum vitae dibuat menggunakan Microsoft Word yang dipasangi gambar, warna, dan lain-lain, tetap bisa dipindai dan diurai oleh ATS, textnya saja.

Penggunaan gambar, warna, atau tabel dalam curriculum vitae tidak masalah, selama tidak mengganggu ATS melakukan pemindaian dan penguraian text.

Sebaliknya, meskipun hanya berisi text tapi dideteksi sebagai gambar oleh ATS, tidak akan dibaca dan diproses.

 

Proses Penilaian ATS

Ada tiga lapis test yang harus ditembus curriculum vitae agar bisa lulus melalui ATS :  

1.     Bisa terbaca dengan baik oleh ATS

2.     Kualitas isi dan strukturnya

3.     Tingkat kesesuaian dengan lowongan pekerjaan

 

Lapis pertama ini yang tidak mungkin bisa ditembus curriculum vitae yang dibuat menggunakan Photoshop atau aplikasi pembuat gambar lainnya, karena ATS tidak bisa membaca gambar.

Karena itu format Curriculum Vitae yang bisa dibaca ATS adalah word dan PDF text. Meskipun format PDF tapi dibuat menggunakan aplikasi pembuat gambar, tidak bisa terbaca oleh ATS.

Cara mudah mendeteksi file PDF apakah bisa terbaca oleh ATS atau tidak, adalah dengan menyorot (highlight) textnya. Bila seluruh text dalam PDF bisa disorot, maka file tersebut bisa terbaca oleh ATS. (Bisa lebih jelas bila menyaksikan video di atas)

Mungkin suatu saat kelak ada ATS yang bisa membaca gambar, karena saat ini pun sudah ada teknologi membaca gambar dan mengonversinya menjadi text.

Lapis kedua adalah penilaian ATS terhadap isi dan struktur curriculum vitae.

Meskipun polos, jadul, kaku, bila isi dan strukturnya kurang baik, curriculum vitae akan mendapatkan nilai rendah dari ATS. Sebaliknya, meskipun memasang gambar, menggunakan warna-warni, dengan layout lebih dari satu kolom, bila isi dan strukturnya berkualitas, curriculum vitae akan mendapatkan nilai tinggi dari ATS.

Salah satu penyebab ATS memberi nilai rendah pada struktur curriculum vitae adalah penggunaan tabel atau textbox untuk layout dua kolom. Ada kemungkinan ATS gagal memisahkan text dalam dua kolom sehingga dianggap satu kolom. Maka isi dan struktur curriculum vitae jadi berantakan, yang menurunkan nilainya. Karena itu harus hati-hati dalam menggunakan textbox dan tabel.

Paling aman adalah layout satu kolom.

Bagaimana struktur isi curriculum vitae yang baik menurut ATS sehingga meningkatkan nilainya, akan dibahas khusus dalam artikel tersendiri.

Lapis ketiga berhubungan dengan lowongan kerja. ATS akan menilai sebesar apa kesesuaian isi curriculum vitae dengan lowongan kerja yang dituju.

Meskipun isi dan strukturnya mendapatkan nilai yang tinggi, nilai keseluruhan sebuah curriculum vitae akan rendah bila tingkat kesesuaian dengan lowongan kerja yang dituju rendah.

Penting sekali untuk melakukan riset kata kunci lowongan kerja.

 

Kubu Mana yang Menang?

Dua-duanya bisa kalah, sama-sama gagal melalui ATS.

Dua-duanya bisa menang, sama-sama lulus melalui ATS.

Mengapa bisa begitu?

Karena dasar perselisihannya yang salah. Mereka memperselisihkan desain curriculum vitae. Itu yang salah. Itulah yang saat ini memprihatinkan. Para pencari kerja sibuk mengotak-atik desain curriculum vitae.

Kubu pertama sibuk membuat desain curriculum vitae semenarik mungkin, menggunakan gambar, icon, grafik, tabel, dan lain-lain.

Sementara kubu kedua sibuk membuat curriculum vitae yang sepolos mungkin, mengharamkan gambar, dan segala hal selain text masuk ke curriculum vitae.

Padahal, meskipun menarik dan indah, bisa lulus bila isinya bisa terbaca ATS. Sebaliknya meskipun polos hanya text saja, bisa gagal bila tidak terbaca ATS.

Kedua kubu itu sibuk mengotak-atik desain dan mengabaikan kualitas isi curriculum vitae.

Alih-alih sibuk membuat desain curriculum vitae, seharusnya mereka berusaha maksimal meningkatkan kualitas isinya.

Baik menggunakan ATS, maupun secara manual, seleksi curriculum vitae itu lebih fokus menilai isinya.

Desain curriculum vitae yang menarik mungkin bisa meningkatkan peluang dipertimbangkan dalam proses seleksi manual oleh rekruter, karena pengaruh visual. Namun itu hanya membantu agar lebih diperhatikan. Selebihnya rekruter tetap akan mempertimbangkan atau dipengaruhi oleh isi curriculum vitae.

Yang lebih memprihatinkan adalah banyak pencari kerja yang menggunakan jasa desain CV. Mereka bersedia berinvestasi untuk desain CV, tanpa memikirkan kualitas isinya.

Seharusnya mereka mencari Jasa Pembuatan CurriculumVitae yang bisa membantu membuat CV yang menarik sekaligus isi yangberkualitas.


Cara Membuat Surat Lamaran Lewat Email (dilengkapi video)

Selasa, Februari 23, 2021 Add Comment
Beberapa perusahaan mensyaratkan surat lamaran dikirim lewat email. Mengirim surat lamaran kerja lewat email adalah suatu yang sangat bermanfaat bagi banyak pihak :

-         Bagi perusahaan lebih mudah dan praktis dalam melakukan seleksi dan penyimpanan surat masuk (pengarsipan).
-         Bagi pelamar lebih praktis, hemat dan mudah juga untuk pengarsipan.
-         Bagi alam lebih ramah karena tidak menggunakan kertas yang menggunakan bahan pohon yang ditebang.


Namun ada beberapa pencari kerja masih belum terbiasa menggunakan email untuk mengirim lamaran. 


1.     Gunakan akun email yang menggunakan nama Anda sebagai alamat email.
Bila hanya memiliki akun email yang dibikin saat masih SMP dulu biasanya alamat email Anda bernuansa alay. Sebaiknya Anda membuat email baru yang mengesankan profesinalitas. Gunakan nama lengkap Anda sebagai alamat email. Bila nama Anda terlalu panjang, gunakan nama awal dan akhir saja.
Contoh : sekarkusuma@gmail.com (nama lengkap : Sekar Puspa Flower Kusuma), atau sekar.kusuma@gmail.com

2.     Siapkan dokumen-dokumen yang akan Anda kirim.
Siapkan resume, curriculum vitae, cover letter dalam format PDF. Mengapa harus menggunakan format PDF? Bagaimana caranya membuat format PDF? Silakan baca di sini.

3.     Tuliskan subjek email.
Subjek email harus Anda tuliskan, karena tanpa subjek email Anda akan dianggap email sampah (junk mail). Biasanya pada informasi lowongan kerja Anda diminta menuliskan kode tertentu dan nama Anda di subjek email sesuai posisi lowongan kerja yang Anda minati. Bila tidak ada perintah dari informasi lowongan kerja, tuliskan saja posisi yang Anda minati dan nama Anda.
Pastikan subjek email Anda isi sebelum menulis di badan email agar tidak terlupa.

4.     Tuliskan surat pengantar (cover letter) atau surat lamaran Anda.
Tuliskan surat lamaran Anda di badan email. Bagaimana cara menulisnya bisa Anda baca di sini.
Kadang Anda juga diminta melampirkan surat lamaran dalam bentuk dokumen.

5.     Tambahkan tanda tangan.
Tanda tangan dalam email atau email signature bukanlah tanda tangan coretan tangan Anda, tapi cukup nama lengkap, alamat email, dan nomor telepon yang Anda tulis di paling bawah badan email.

6.     Lampirkan file dokumen-dokumen Anda.
Lampirkan file dokumen resume atau CV Anda, dan surat lamaran yang sudah Anda siapkan.
Klik tombol ‘sisipkan file’ atau ‘attach file’ kemudian pilih file-file dokumen yang sudah Anda simpan di hard disk computer.

7.     Kirimkan email.
Sebelum Anda klik tombol kirim periksa lagi email Anda :
a.     Alamat tujuan
b.     Subjek email
c.      Badan email
d.     File-file lampiran
e.     Periksa dengan seksama, hindarikesalahan tulisan sehingga terkesan tidak professional.

Sebaiknya kirimkan juga email Anda ini kepada diri sendiri sebagai arsip  dengan menggunakan fasilitas BCC pada alamat tujuan.

Gambar dari http://www.all-free-download.com

Hard Skills VS Soft Skills, yang Lebih Dibutuhkan di Dunia Kerja (dilengkapi video)

Rabu, Januari 20, 2021 Add Comment

 

Curriculum vitae adalah media bagi pencari kerja untuk menawarkan dirinya kepada perusahaan. Yang ditawarkan kepada perusahaan adalah skill. Sejatinya semua perusahaan hanya mencari skill dalam curriculum vitae calon karyawan yang melamar kerja.

 Ada dua jenis skill, yaitu soft skill dan hard skill.

Manakah yang lebih dibutuhkan perusahaan dari karyawannya, soft skills atau hard skills?

Tentu saja dua-duanya dibutuhkan, tapi mana yang lebih penting?


Agar bisa menjawab pertanyaan itu kita harus memahami dulu apa itu soft skill dan hard skill, yang ternyata tidak mudah. Sampai sekarang, saya masih menemukan banyak orang yang tidak bisa membedakan antara soft skill dengan hard skill. Hal tersebut saya temukan dalam status di sosmed, dan dari curriculum vitae mereka.


 Definisi

 (catatan : meskipun terjemahan skill dalam bahasa Indonesia adalah keterampilan, dalam artikel ini saya tidak menerjemahkan semuanya agar lebih mudah dicerna dan nyaman dibaca)


Soft Skill

Soft skill adalah kompetensi yang dimiliki karyawan terkait dengan aktivitas seperti penanganan pelanggan, komunikasi, pemecahan masalah, dan kerja tim. Definisi soft skill terkadang mencakup loyalitas, antusiasme, ketepatan waktu, dan etos kerja yang kuat.

(Terjemahan Oxford Dictionary)

 

Soft skill adalah kombinasi dari interpersonal skill, social skill, communication skill, sifat karakter, sikap, atribut karir, dan kecerdasan emosional (EQ).

(Terjemahan En Wikipedia)

 

Soft skill adalah kemampuan orang untuk berkomunikasi satu sama lain dan bekerja sama dengan baik

(Terjemahan Cambridge Dictionary)

 

Hard Skill

Hard skills adalah kompetensi yang dimiliki karyawan seperti berhitung, literasi, kefasihan dalam bahasa asing, dan kemampuan teknis terkait pekerjaan tertentu (mengoperasikan mesin, membuat tabel, mengetik, mengemudi, membalut luka, dan sebagainya).

(Terjemahan Oxford Dictionary)

 

Hard skill juga disebut technical skill, adalah segala skill yang berhubungan dengan tugas atau situasi tertentu

(Terjemahan En Wikipedia)

 

Dari beberapa sumber tersebut, bila dirangkum jadi kalimat baru menjadi:

Soft skill adalah skill seseorang dalam berhubungan dengan orang lain untuk  bekerja sama dengan baik, yang juga kombinasi dari sifat karakter, sikap, atribut karir, dan kecerdasan emosional (EQ).

Hard skill adalah skill teknis yang berhubungan dengan pekerjaan tertentu atau tugas tertentu atau situasi tertentu.

Dari definisi di atas, apakah Anda sudah bisa menjawab pertanyaan?

 

Perbedaan – Perbandingan

 Agar lebih paham dan mantab dalam menjawab pertanyaan mari kita bandingkan keduanya, mengetahui ciri masing-masing dan perbedaannya.

Soft skill dibutuhkan untuk semua jenis pekerjaan. Contoh: ketekunan (Perseverance). Semua jenis pekerjaan membutuhkan ketekunan, ya khan.

Hard skill tertentu dibutuhkan untuk jenis pekerjaan tertentu. Contoh : menggambar. Banyak jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan skill menggambar.


Soft skill sulit diukur. Bagaimana mengukur ketekunan seseorang dengan cepat?

Hard skill mudah diukur. Sangat mudah menilai kemampuan menggambar seseorang. Bisa dilakukan dengan cepat.

Karena sulit diukur, ada yang bilang bahwa soft skill itu lebih abstrak dibanding hard skill.


Soft skill lebih sulit dilatihkan dibanding hard skill. Sebagian besar porsi materi pendidikan di negara kita adalah tentang hard skill. Sulit bukan berarti tidak bisa, hanya butuh waktu lebih lama dan upaya lebih keras untuk melatih soft skill.


Soft skill tidak bisa kadaluarsa, selamanya akan digunakan di dunia kerja, selalu bermanfaat. Sampai kapanpun dibutuhkan ketekunan untuk mengerjakan sesuatu.

Hard skill bisa kadaluarsa, yaitu yang berhubungan dengan teknologi yang terus berkembang. Hard skill seseorang tentang teknologi yang sudah ketinggalan zaman tidak lagi dibutuhkan. Skill seseorang


Karena tidak bisa kadaluarsa, jenis-jenis soft tidak bertambah secara signifikan. Hanya sedikit penambahannya. Mungkin hanya menjadi lebih spesifik, terpecah dari satu jenis soft skill jadi beberapa jenis.

Sedangkan hard skill terus bertambah dengan cepat, sebanding dengan banyaknya hard skill yang sudah tidak dibutuhkan lagi.


Bila hard skill membuat seseorang mampu mengerjakan sesuatu, maka soft skill memengaruhi kualitas hasil dari pekerjaannya. Namun ironisnya, masih banyak orang yang menganggap hasil pekerjaan yang baik adalah karena kualitas hard skill saja, kurang melibatkan soft skill. Padahal sudah berkali-kali terjadi, terbukti, bahwa dua orang yang hard skillnya identik, kualitas hasil kerjanya tidak sama. Itulah bukti nyata pengaruh soft skill pada kualitas hasil kerja.

Beberapa soft skill, seperti keinginan untuk belajar (desire to learn), berpikir cepat (quick-witted), atau  kesediaan untuk belajar (willingness to learn) sangat dibutuhkan dan bermanfaat untuk mempelajari hard skill. Orang-orang yang memiliki soft skill-soft skill tersebut akan mudah memelajari dan menguasai hard skill baru.

Beberapa soft skill, seperti kemampuan menerima umpan balik (accepting feedback), ketekunan (perseverance), dan kegigihan (persistence) yang dimiliki seseorang akan membuatnya mampu meningkatkan kualitas hard skill yang sudah dimilikinya.       

 

Kebutuhan di Dunia Kerja

Dahulu, perusahaan-perusahaan hanya sibuk meningkatkan kualitas hard skill para karyawannya. Namun, akhir-akhir ini sudah banyak perusahaan yang mulai memerhatikan soft skill para karyawannya.

Perusahaan-perusahaan itu mulai sadar bahwa ternyata karyawan yang memiliki soft skill lebih mudah ditingkatkan hard skillnya. Terutama dalam menghadapi perubahan dan perkembangan teknologi yang semakin ke sini semakin cepat.

Hard skill memang harus dimiliki oleh karyawan, wajib, syarat mutlak agar mereka mempunyai kemampuan dalam bekerja, seperti kemampuan mengoperasikan komputer. Dengan berkembangnya teknologi,  kemampuan mengoperasikan komputer sudah menjadi syarat mutlak untuk para karyawan. Hampir tidak ada perusahaan yang mau menerima calon karyawan yang tidak mampu mengoperasikan komputer. Bahkan, tidak cukup sekadar mampu mengoperasikan komputer, harus lebih spesifik sesuai bidangnya masing-masing, seperti kemampuan mengoperasikan aplikasi akuntansi dan kemampuan mengoperasikan software pengendali mesin.

Seorang karyawan tidak boleh mudah puas dengan hard skill yang dimiliki, karena teknologi terus berkembang, perubahaan semakin cepat. Keterampilan teknis yang dulu jadi primadona, saat ini bisa tidak dibutuhkan lagi. Seorang karyawan harus sadar akan perubahan, dan mampu mengikutinya. Sadar terhadap perubahan teknologi adalah salah satu jenis soft skill (Technology trend awareness), begitu juga dengan kemampuan mengikuti perubahan (Adaptability, Flexibility, Tolerance of change and uncertainty).

Selanjutnya, mari kita membahas jawaban pertanyaan di awal tadi :  “Manakah yang lebih dibutuhkan perusahaan dari karyawannya, soft skills atau hard skills? Manakah yang lebih penting?

Mari kita jawab dengan menggunakan contoh.

Contoh kasus pertama tentang Budi dan Bagas (hanya contoh, pemilihan nama tidak berhubungan dengan pembahasan kasus maupun kejadian nyata).

Budi dan Bagas mempunyai keterampilan teknis yang sama, tingkat penguasaannya juga sama, yaitu mengoperasikan mesin produksi.Selain mengoperasikan mesin sesuai SOP Budi rajin mencatat setiap masalah yang terjadi pada mesin tersebut, berusaha menganalisanya, dan berusaha mencari solusi untuk mengantisipasi agar masalah tidak berulang. Sementara Bagas selalu berusaha menjalankan dan mengoperasikan mesin itu sesuai SOP. Bila ada masalah Bagas akan berusaha mengatasinya sesuai SOP. Bila tidak bisa, dia akan melaporkan kepada atasannya.

Bila Anda jadi atasan mereka, dan harus memilih salah satu, siapakah yang Anda pilih?

Contoh kasus kedua lebih ekstrim. Tentang Angga dan Anton.

Angga adalah sarjana teknik IT, sedangkan Anton adalah sarjana teknik elektro.

Sebagai sarjana IT Angga sudah memiliki banyak pemahaman dan ilmu komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Angga merasa cukup puas dengan ilmu yang sudah dikuasainya sejak kuliah, IPK-nya sangat tinggi, hampir cum laude. Angga jarang meluangkan waktu untuk belajar hal-hal baru. Waktu luangnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan pribadi bersama keluarga.

Anton memiliki semangat belajar yang tinggi, apalagi tentang teknologi-teknologi digital yang berhubungan dengan bidang pekerjaannya. Dia sering menghabiskan waktu luangnya untuk menambah ilmu dan berlatih, mengikuti pelatihan-pelatihan secara tatap muka langsung maupun online. Dia bersedia menggunakan uang pribadinya untuk itu.

Sama seperti kasus pertama, bila Anda jadi atasan mereka dan harus memilih, Anda memilih siapa?

Pada contoh pertama, Budi dan Bagas memilik hard skill yanga sama. Namun Budi memiliki soft skill yang tidak dimiliki Bagas.

Sedangkan pada contoh kedua, Angga memiliki tingkat hard skill lebih tinggi dibanding Anton, tapi Anton mempunyai soft skill yang tidak dimiliki Angga.

Sudah terjawab pertanyaannya?

 

Skill yang Dibutuhkan di Masa Depan

Meskipun kita sudah mendapatkan jawaban tentang mana yang lebih penting antara soft skill dengan hard skill, yang mungkin ada perbedaan jawaban di antara kita, kedua-keduanya sangat dibutuhkan di dunia kerja. Kita tidak bisa hanya mengembangkan salah satu saja, dan mengabaikan yang lainnya.

Anda harus mengenali dan memahami soft skill yang sudah Anda miliki, untuk Anda latih terus sehingga meningkat kualitasnya.

Karena tidak banyak bertambah seiring waktu, kita bisa membuat daftar soft skill. Silakan download tabel yang berisi 136 soft skill di sini (passwordnya disampaikan pada video di atas)

Di masa-masa yang akan datang, soft skill yang dibutuhkan perusahaan dari para  karyawannya adalah yang berhubungan dengan perubahan, karena kondisi dunia sekarang sedang mengalami perubahan yang besar dan cepat.

Jenis-jenis soft skill seperti itu di antaranya :

o   Kreativitas - Creativity

o   Adaptasi - Adaptability

o   Inovasi - Innovation

o   Berpikir cepat - Quick-witted

o   Penelitian - Research

o   Cerdas teknologi - Technology savvy

o   Kesadaran tren teknologi - Technology trend awareness

o   Toleransi pada perubahan dan ketidakpastian - Tolerance of change and uncertainty

o   Keinginan untuk belajar - Desire to learn      

 

Selain soft skill-soft skill itu, soft skill dasar juga akan tetap sangat dibutuhkan, seperti Ketegasan – Assertiveness, Kolaborasi – Collaboration, Kerja sama – Cooperation, Dedikasi – Dedication, Kepemimpinan – Leadership, Mendengarkan – Listening,  Pemikiran logis - Logical thinking, dan lain-lain (lihat tabel soft skill).                       

Bila soft skill bisa dibuat tabel, tidak demikian dengan hard skill. Sangat sulit membuat tabel hard skill yang dibutuhkan dalam dunia kerja, karena setiap saat akan muncul hard skill baru mengiringi perkembangan teknologi.

Perkembangan industri saat ini, dan sampai beberapa dekade ke depan, trennya berhubungan dengan teknologi berbasis online, digital, dan remote work. Maka apapun bidang Anda sebaiknya segera kuasai hard skill yang berhubungan dengan tiga kata kunci tersebut.

·        Sarjana ekonomi kuasai soft ware aplikasi keuangan

·        Sarjana hukum kuasai dan pelajari aturan-aturan dan kebijakan publik yang berhubungan dengan teknologi digital atau online.

·        Apalagi sarjana teknik, meskipun bukan sarjana IT, harus menguasai teknologi digital.

·        Dan lain-lain